Siapakah yang tidak tahu kue puthu? Jajan tradisionil yang dibuat dari tepung beras, parutan kelapa dengan isian gula merah, diciptakan dengan memakai bambu-bambu yang dengan diameter kecil.

Kue Puthu Celaket, Kue Puthu Lanang Malang

Terpikirkan bagaimana rasa sensasinya? Malang punyai warung puthu yang paling terkenal semenjak tahun 1935, yakni Kue Puthu Lanang Celaket jajan ciri khas Malang yang sudah menjadi kue puthu legendaris dan masih tetap menjaga kualitas dan cita-rasa puthunya ini, berada di Jalan Beskal Agung Suprapto No 73, Gang Buntet.

Tempat ini mulai membuka jam 16.45 sampai jam 22.00 WIB tetapi kalian harus tiba lebih cepat, karena kalian tidak ingin kan turut antrean yang paling panjang untuk memperoleh satu porsi kue puthu yang sedap ini?

Bahkan juga kue puthu ini dapat terjual habis dalam kurun waktu 4 jam saja. Selainnya nikmati kesedapan kue puthu, kalian bisa juga pesan jajan tradisionil semacamnya seperti, cenil, klepon, dan lupis. Tidak perlu keluarkan bujet yang mahal cukup Rp.10.000 untuk satu jatah jajan ini.

Saat sebelum selaris seperti sekarang ini, usaha yang dibuka oleh Ibu Siswojo, alm. Soepijah semenjak tahun 1935 waktu itu di depannya kerap banyak tentara, bahkan juga semenjak kemenangan Jepang di Indonesia, saat itu Malang yang dijajah banyak konsumen setia alm. Soepijah yang disebut orang Jepang, bahkan juga menjadi satu diantara kulineran kesukaannya.

Dulu namanya bukan ‘Puthu Lanang’, tetapi ‘Puthu Celaket’ saja, karena lokasi berjualannya yang benar ada di lokasi Celaket. Semenjak puthu ini mempunyai pencinta yang banyak, pada akhirnya banyak pula yang mengatasdirikan upayanya jadi ‘Puthu Celaket’ , mereka mengeklaim jika puthu itu cabang dari usaha yang dilanjutkan oleh Sisjowo.

Tetapi pada akhirnya nama ‘Puthu Celaket’ jadi ‘Puthu Lanang’ karena Siswojo yang di inspirasi oleh puthu yang namanya ‘Puthu Ayu’. Dipandang kurang cocok dengan panggilan ‘Puthu Tampan’ karena berkesan narsis, Siswojo mengganti nama warungnya jadi ‘Puthu Lanang’ pada tempat yang serupa.

Puthu Lanang dia sebutkan jadi saingan Puthu Ayu. Disamping itu, semua cucu dari alm. Soepijah ialah lelaki, hingga nama Puthu Lanang ini juga dapat disimpulkan sebagai putu lanang alias cucu lelaki.

Lupis di Puthu Lanang, Celaket
Karena konsumen setianya pada akhirnya usaha Puthu Lanang ini tidak lagi ada yang mengatasdirikan cabang atau menyontek namanya, karena semenjak tahun 2000, nama ‘Puthu Lanang’ ini dipatenkan.

Awalannya Siswojo ini rasakan beban yang lumayan berat saat disuruh melanjutkan usaha dari Ibunya, apa lagi tugas Siswojo awalnya ialah developer properti. Tetapi karena semangat Siswojo dalam membuktikkan jika walau kulineran puthu ini sudah digenggam di angkatan ke-2 , nama baik, cita-rasa dan kualitasnya selalu terlindungi.

Bisa dibuktikan sekarang ini, sesudah dua puluh tahun Suswijo meneruskan resep dan usaha peninggalan Ibunya, konsumen setia capai 100%.

Pada harga dapat dijangkau, puthu di sini dibanderol denga Rp10.000 mendapatkan sepuluh puthu ini sehari-harinya habis 1000 puthu terhitung jajan tradisionil yang dipasarkan di Puthu Lanang, seperti cenil, lupis atau klepon.

Yang awalannya Siswojo berasa berat melanjutkan usaha ini, ternyata dia sekarang ini akui jika benar-benar tenang dan tidak berasa setenang ini sejak meneruskan usaha peninggalan ibunya.

Untuk Anda pencinta kulineran, tidak ada kelirunya nikmati Puthu Lanang yang legendaris dan penuh narasi didampingi situasi Malang yang selalu dikangenin khususnya Anda yang perantau.