Akhir akhir ini frekuensi kehamilan remaja cenderung meningkat. Hal ini mungkin disebabkan adanya perubahan budaya, tingkat gizi, pengetahuan seks dan pergaulan remaja. Para remaja pada saat ini terus dibombardir dengan berbagai informasi melalui berbagai media. Walaupun demikian secara hukum hal ini sah-sah saja, selama usia perkawinannya memenuhi persyaratan perundangan.

Dampak dari pernikahan remaja tidak saja berimplikasi kepada masalah sosial, budaya dan psikologis remaja, tetapi juga berefek besar dalam dunia kesehatan terutama kebidanan.
Apa masalah yang timbul dalam kebidanan? Ooops!
Banyak sekali! Ya jelas sekali banyak masalah yang timbul dari pernikahan remaja. Kita coba lihat dari sudut pandang ilmu kebidanan.

Ali S Kashan, PhD dkk, dari Universitas Cork Irlandia telah melakukan penelitian pada para remaja wanita yang hamil di Inggris.

Penelitian dilakukan pada 21 rumah sakit ibu, rumah sakit-rumah sakit melayani dari berbagai kelompok etnis, tingkat sosialekonomi dan lainnya. Remaja yang diteliti berkisar usia 14-29 tahun, dan dibagi menjadi tiga kelompok; 1. Usia 14-17 tahun, 2. Usia 18-19 tahun, dan 3. 20-29 tahun.

Hasilnya ternyata wanita remaja yang berusia 14-19 tahun bersiko mendekati dua kali lebih besar melahirkan bayi prematur disbanding kelompok usia matang.

Apa implikasinya? Bayi –bayi yang dilahirkan prematur ini mempunyai berat bayi lahir yang lebih rendah 24g pada kelompok usia 14-17 tahun dan 80g 18-19 tahun. Berat bayi lahir rendah jelas akan meningkatkan biaya perawatan, selain itu meningkatkan resiko kematian bayi baru lahir. Walaupun demikian apakah faktor usia ini akan mempengaruhi berat bayi lahir? Ternyata tidak, pada penelitian lain sebelumnya (setelah dilakukan penyesuaian berdasarkan tinggi, berat, dan suku ibu terhadap berat lahir) didapatkan bahwa hanya ditemukan sedikit bukti adanya hubungan antara usia ibu hamil dengan resiko melahirkan bayi dengan berat lebih kecil.

Apakah makna pentingnya dari penelitian ini? Paling penting bahwa hal ini menjadi warning bagi para remaja untuk menunda usia perkawinannya, karena apabila mereka memutuskan menikah diusia dini maka akan mempunyai resiko melahirkan bayi prematur dua kali lebih besar dibandingkan bila menikah diusia matang. Selain itu kelompok ibu remaja hamil harus mendapatkan perawatan antenatal yang lebih sesuai.